Sabtu, 25 Februari 2012

Meraih Mulia

AKIPRAH HAMBA MULIA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Al Furqon : 63
ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y ÇÏÌÈ
63.  Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Istilah ‘hamba’ dalam bahasa Arab adalah‘abd yang berasal dari kata kerja  ‘abada yang berakar kata dengan huruf-huruf ‘ain, ba’,dan dal. Struktur ini bermakna pokok ‘kelemahan dan kehinaan’ dan ‘kekerasan dan kekasaran’.  Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa seorang hamba pada hakekatnya lemah dan hina tidak ada bandingannya dihadapan Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga tak layaklah bagi seorang hamba melakukan kesombongan baik terhadap sesamanya lebih-lebih terhadap sang kholik (Pencipta). Seorang hamba merupakan wujud pribadi yang mampu berkiprah dengan kerendahan hati dan ucapan yang mengandung keselamatan kehidupan, menyadari keadaan ini dinamika kehidupan akan mampu meminimalkan berbagai bentuk kejahatan yang penuh kehinaan, untuk meraih kemuliaan.

Dinamika kehidupan dunia ada yang berwarna kemuliaan dan juga ada yang berwarna kehinaan, dan sangat dimungkinkan antara keduanya bisa saling bersengketa untuk mempertahankan kepentingan  yang dimilikinya, maka diutuslah para Nabi dan Rasul untuk membimbing manusia pada kebenaran menuju keselamatan, membuang segala bentuk permusuhan menuju persaudaraan. Hubungan antar manusia beserta alam sekitarnya bisa saling menghormati dan menghargai, lebih-lebih sebagai sesama hamba yang lemah tentunya sangat paham akan peran kemuliaan, sehingga figur pemimpin yang menjadi tauladan kehidupan akan mendorong proses kesadaran diri.

Keberadaan Rasulullah Muhammad SAW dalam pentas peradaban dunia ternyata mampu memberikan kontribusi besar untuk perbaikan kehidupan, ketika lingkungan sekitarnya mengedepankan permusuhan, kesewenangan, hingga pembunuhan, sapaan dakwah Rasulullah SAW mengantarkan sekaligus menyelamatkan kehidupan manusia pada kemuliaan. Kepribadiannya sungguh luar biasa dalam memberikan keteladanan kebaikan (QS:68:4), ketika tatanan social lebih mengedepankan kerendahan moral, sehingga nilai-nilai kemanusiaan runtuh dan tidak ada harganya, Uswah hasanah Rasulullah SAW mampu menjadi bintang penerang kehidupan, penyembuh luka kehidupan, mengangkat pada derajat kemuliaan. Beliaulah hamba pilihan Allah SWT yang memiliki kepekaan tinggi untuk peduli, yang memiliki kesabaran tinggi untuk memberi solusi atas problem dan jeratan kehidupan yang menghinakan.

Tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan tanggal yang bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia, karena pada saat itulah lahirnya manusia yang mulia, teragung sepanjang masa, dengan membawa misi kenabian Risalah Islam yang menyelamatkan. Sehingga Michael H Hurt dalam bukunya The 100, menempatkan Rasulullah Muhammad SAW pada ranking pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Dalam Ensiklopedi Islam, ketika beliau masih berusia 20 tahun telah mendirikan Hilful Fudul, semacam lembaga social yang menangani masalah kemiskinan dan korban keteraniayaan, sebagaimana kita ketahui para elite Jahiliyah yang begitu tega menyiksa dan menghina masyarakat Makkah yang menjadi korban kebrutalan dan kekejamannya tanpa adanya belas kasihan. Dalam Ensiklopedi Muhammad, Afzalur Rahman menyatakan, dalam tempo kurang dari satu decade , Muhammad SAW berhasil meraih berbagai prestasi yang tak mampu disamai pemimpin Negara manapun.(Republika:13-2-2011)
Pretasasi gemilang membangun peradaban manusia yang lebih beradab karena dukungan kesempurnaan ajaran Islam serta keteladanan sang pembawa risalah Islam Muhammad SAW, kekuatan inilah yang mampu merobohkan tirani kekejaman yang ditampilkan para elite jahiliyah, sehingga mereka yang cerdas tercerahkan, mereka yang tertindas diberdayakan, dan mereka yang pemberani menjadi ikhlas dalam berjuang untuk mengawal dakwah Islam.
Kepribadian yang unggul dari Rasulullah itulah yang menjadi daya dorong umat untuk meneladani sepak terjangnya baik sebagai pribadi, anggota keluarga maupun perannya di masyarakat yang lebih luas agar tetap mencerminkan nilai-nilai kemuliaan. Hamba mulia merupakan pribadi yang sehat baik secara jasmani maupun ruhani serta mampu mengambil hikmah secara cerdas atas berbagai fenomena kehidupan yang dihadapinya.
Penelitian Dr. Herbert Benson dari fakultas kedokteran Harvard University berkesimpulan keimanan memberikan banyak kedamaian dan kesehatan jiwa. Hasil penelitian David B Larson seorang ahli kesehatan masyarakat dari Amerika berkesimpulan, bahwa orang yang taat beragama sedikit mengalami stress, bahkan penyakit jantung 60 % lebih sedikit dibandingkan orang – orang  biasa dan atau yang tidak taat beragama. Interaksi kehidupan kadangkala membahagiakan dan kadang pula mengguncangkan, sehingga seorang hamba mulia akan mampu mendayagunakan segenap potensi dirinya untuk konsisten dalam perilaku yang bijak. Hasan Al Basri memberikan nasehat, wahai anak cucu Adam bagaimana mungkin kamu mendapatkan kemuliaan dalam agamamu, sedang kamu melalaikan sholat, dan janji orang mulia adalah berbuat dan menyegerakan, sedang janji orang yang hina adalah menangguhkan dan menunda-nunda.
Peradaban kehidupan ini membutuhkan kehadiran orang-orang yang mulia, dan diharapkan kita mampu menjadi bagian orang yang mulia itu untuk memperbaiki kehidupan yang telah dirusak oleh ulah orang-orang yang hina, dan jangan jadikan diri ini bagian dari orang-orang yang hina karena orientasinya hanya sebatas pemuasan nafsu belaka. Hamba mulia merupakan pribadi yang konsis mempererat kedekatan dengan sang kholiknya sekaligus berkiprah dengan teladan kebaikan.

Bina Keluarga

ROBOHNYA KELUARGA INDONESIA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
            Judul tulisan di atas merupakan bagian dari pernyataan Prof.Dr. Dien Syamsudin, MA ketika menjadi penceramah pada tabligh akbar peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di masjid nasional Al Akbar Surabaya, dimana beliau benar-benar merasa prihatin atas kondisi keluarga Indonesia pada akhir-akhir ini yang semakin cenderung kehilangan kekuatannya dalam membina, mengawal, mendidik dan menjadi tauladan di lingkungan keluarga, sehingga para anggota keluarga kehilangan kendali, tak tahu kemana arah yang dituju, bahkan semakin runyam ketika ada permusuhan di dalamnya yang sulit didamaikan karena masing-masing pihak keukeh atas pendirian dan sikapnya. Rumah yang seharusnya menjadi media interaksi dan komunikasi yang produktif dan menyenangkan, telah menjadi arena pelampiasan dendam dan kebencian yang menakutkan. Keluarga sakinah adalah dambaan kita semua, dan menurut Sayid Rasyid Ridlo, sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana ketenangan dan merupakan lawan dari keguncangan batin dan kekalutan. Maka keluarga sakinah terwujud karena adanya pribadi-pribadi yang unggul, tangguh dan tidak terjebak dalam berbagai bentuk sifat kerendahan, untuk mengendalikan bahtera rumah tangga meraih bahagia dan sejahtera. Keluarga yang mampu mewujudkan rasa syukur atas karunia-Nya sebagai refleksi dari sikap ketenangan, sebab jiwa yang bergejolak penuh kegoncangan akan terjerembab pada kekufuran. Para anggota dari keluarga sakinah merasakan ketentraman, kebahagiaan, keamanan, kedamaian dan sejahtera lahir dan batin. Sejahtera lahir terbebas dari kemiskinan materi dan tekanan penyakit jasmani, dan sejahtera batin terbebas dari kemiskinan keimanan, sehingga mampu menerapkan nilai-nilai keagamaan baik di keluarga maupun di masyarakat.
            Robohnya keluarga adalah awal dari kehancuran peradaban kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara, karena kehidupan keluarga yang sehat dan kokoh akan mampu menguatkan sendi-sendi kehidupan. Begitu pentingnya kekuatan pada keluarga sehingga pembinaan keluarga menjadi salah satu bagian dari ajaran utama agama Islam, diantaranya untuk menjadikan keluarga yang mampu mewujudkan ketenangan, cinta dan kasih sayang (Ar-Rum:21), kekuatan keluarga tidaklah terletak pada melimpahnya materi, tetapi adanya kehidupan yang harmonis, saling menjaga amanah bukannya perselingkuhan yang semakin mewabah dan permusuhan yang semakin mengerikan hingga terjadi pembunuhan. Bahkan orang beriman untuk bisa menjaga dirinya dan keluarganya dari ancaman bahaya yang dapat menyeret pada neraka (At-Tahrim:6), yang terus mengumbar amarah dan memperturutkan hawa nafsu yang menyesatkan. Maka bekali keluarga kita dengan nilai-nilai taqwa (Al Baqarah:197), dimana orangtunya bisa menjadi tauladan kebaikan, dan anak-anaknya mampu mengamalkan nilai akhlaqul karimah, sehingga keluarga dijauhkan dari bencana yang merobohkannya (Yunus:100). Keluarga orang beriman harus menjadi keluarga yang kuat baik secara materi, fisik dan spiritual serta sosial (Ali Imran:139) sehingga meraih derajat yang tertinggi. Rasulullah Muhammad SAW begitu luar biasa menghargai pada para anggota keluarga sehingga tetap memelihara rasa kasih sayangnya, sebagaimana hadits dari Imam Bukhari dengan sanad dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah pernah mencium Hasan bin Ali, dan pada waktu itu Al Aqra’ Bin Habis at-Tamimi sedang duduk disebelah beliau, lalu berkata:”Sesungguhnya saya mempunyai sepuluh anak dan tidak ada seorangpun yang saya cium”, Kemudian Rasulullah melihatnya dan bersabda:”Barangsiapa yang tidak menyayangi (orang lain) maka dia tidak disayangi”. Begitulah kedekatan Rasulullah SAW kepada anggota keluarganya sebagai bentuk refleksi cinta kasih .
            Keluarga yang sudah kehilangan ketenangan dan ikatan cinta kasih, bagaikan bara yang siap membakar sehingga merusak kebahagiaan, dan yang ada adalah pelampiasan amarah, jika dikembangkan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas terjadilah anarkhisme dan berbagai bentuk tindak kesewenangan penuh arogan, ketika dia menjadi pemimpin maka yang dilakukan adalah upaya pengrusakan sejadi-jadinya, keonaran dimana-mana akibat dari kebijakan yang meresahkan masyarakat. Teladan kebaikan yang seharusnya dimunculkan berubah menjadi kekejaman dan menindas sepuasnya, kehidupannya bergelimang dengan harta dan sibuk berpesta secara mewah tanpa peduli lagi dengan nasib penderitaan masyarakatnya (Al Isro’ : 26 – 27), dan jika mereka menentang kebijakannya akan dimatikan secepatnya (Al A’raaf:56), mereka tidak ingin segala keinginannya dihalangi apalagi ditentang, sehingga menggunakan para kroninya untuk mensukseskan segala niat jahatnya.
            Upaya menyelamatkan keluarga berarti memberikan kontribusi untuk proses penyelamatan kehidupan berbangsa dan bernegara, dan jika membiarkan bahkan berperan serta dalam merobohkan keluarga berarti merobohkan keluarga seluruh bangsa. Hal ini sebagai konsekwensi logis dari peran apa yang sedang kita jalankan, apakah menuju kebahagian keluarga ataukah malah menghancurkan keluarga.  Untuk itu perlu kita bangun kembali kehangatan keluarga yang ada di rumah kita dengan menjaga keharmonisan, menguatkan kepercayaan, menghalau berbagai bentuk perselingkuhan, serta siap untuk berbenah agar keluarga kita selalu kuat dalam menjaga aqidah, maksimal dalam beribadah serta menguatkan akhlaqul karimah karena dari sanalah kebahagiaan akan terwujudkan. Lebih-lebih dalam kehidupan yang semakin mengglobal dengan kehadiran tehnologi informasi yang semakin pesat menghadirkan ragam budaya dan gaya hidup yang hedonis dan materialis sehingga dapat membutakan nilai-nilai spiritual jika tidak adanya kekuatan yang sempurna dari keluarga, sebagai perisai sekaligus filter dari badai budaya yang menyesatkan untuk menghancurkan keluarga.
            Nilai-nilai agama Islam dijadikan pondasi dari bangunan keluarga sehingga suami dan istri saling menyayangi dan bisa menjaga diri serta kepercayaan yang diberikan untuk menjadi tauladan bagi anak-anaknya, bukannya keluarga yang dibangun oleh keserakahan pada kerendahan. Betapa bahagianya manakala anak-anak dan istri/suami bisa menjalankan ibadah secara benar  dan sempurna karena dapat mencegah dari perilaku keburukan. Dan betapa damainya negeri ini manakala pemimpinnya senantiasa peduli pada rakyatnya untuk disejahterakan, bukannya kebohongan yang dijadikan panglima kebijakan. Kejujuran para pemimpin akan mampu menguatkan bangunan keluarga bangsa. Jangan hancurkan negeri ini dengan sikap keserakahan, bangkitkan negeri ini dengan kejujuran, dan mulai dari keluarga kita.

Kelana Dakwah

KELANA DAKWAH :
“ MUHIBAH KE KUALA LUMPUR MALAYSIA”
Malaysia sebagai Negara yang serumpun dengan Negara Indonesia, sehingga sangat menarik untuk dijadikan bahan kajian khususnya dalam bidang social dan keagamaan, karena dari fenomena ini kita bisa mengambil pelajaran atas capaian keberhasilan serta membuang hal-hal yang dirasa kurang berkenan. hal ini terkait karakteristik kebijakan dari masing-masing Negara tersebut. Muhibah ke Kuala Lumpur Malaysia bersama para tokoh agama yang ada di Kota Surabaya dilaksanakan pada hari Selasa hingga kamis, tanggal 13 – 15 Desember 2011, sebagai upaya untuk melihat dari dekat dinamika social dan keagamaan disana.
Lokasi kunjungan ke : Kantor KBRI Kuala Lumpur, Sekolah Internasional KBRI Kuala Lumpur, serta Rumah-Rumah Ibadah di Kuala Lumpur: Masjid Negara Kuala Lumpur Malaysia, Batu Café  Temple (Pura), Cathedral of Saint Mery Malaysia 1894, Peresekutuan ( Thean Hou Temple)
Pada hari pertama, rombongan berkunjung ke Kantor KBRI Kuala Lumpur Malaysia, sebagai satu-satu kantor perwakilan Negara yang super sibuk di Kuala Lumpur Malaysia, hal ini terlihat dari suasana berjubelan para WNI untuk mengurus dan menyelesaikan permasalahan dengan berbagai macam latarbelakang yang ada. Kunjungan ke KBRI difokuskan pada aspek permasalahan sekitar TKI dan kehidupan keagamaan. Pihak KBRI diwakili bapak Hendra S Pramana, yang menjabat counselor economy, sedang satu-satunya dari perwakilan tokoh agama yang hadir adalah Ustad M. Arifin Ismail sebagai Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malasysia.
Ada beberapa hal yang disampaikan oleh Bapak Hendra, diantaranya: Sebenarnya ada banyak dinamika yang menggambarkan keberadaan para tenaga kerja dan tenaga ahli yang ada di Malaysia, hanya saja permasalahan TKI yang lebih dominan, sehingga para tenaga ahli Indonesia yang professional dan sukses bekerja di Malaysia kurang dipubikasikan, baik sebagai peneliti, ahli astronomi dan lainnya. Adapun  beberapa permasalahan TKI yang sering ditangani oleh KBRI, diantaranya : Legalitas Ketenagaan TKI,  Kekerasan terhadap TKI, Kecelakaan Kerja, Kriminalitas,Ketidak sesuaiannya dalam kesepakatan kerja. Sedang bidang kerja yang digeluti para TKI diantaranya bidang : Perkebunan, Tata Ruang / Kontruksi, Tenaga Profesional, Layanan Jasa, dan lainnya. Pihak KBRI juga melakukan upaya pembinaan bagi para TKI baik yang menyangkut legalitas TKI, Perlindungan TKI dan lainnya sebagai bentuk keberpihakan terhadap warga Negara Indonesia yang bermasalah di Malaysia. KBRI juga membuka Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, meski dengan segala keterbatasan yang ada selalu berupa memberikan layanan pendidikan bagi warga negera Indonesia yang ada di Malaysia dengan apapun profesinya. Ada permasalahan bagi anak-anak TKI yang bekerja di sector perkebunan, sehingga tidak bisa sekolah di Kuala Lumpur karena mereka mengikuti para orang tuanya yang kerja disana, sehingga pihak KBRI membuka Learning Cenre (Pusat Pendidikan) dikantong-kantong warga Negara Indonesia yang bekerja di pedalaman yang kerjasama dengan Atase Pendidikan Malaysia untuk memberikan terobosan dalam memberikan layanan pendidikan.
Ustad M. Arifin Ismail yang menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia (PCIM Malaysia), telah memaparkan sekitar kehidupan beragama di Malaysia, diantaranya :
1.      Dasar Rukun Negara
Percaya pada Tuhan, dan Islam menjadi agama resmi federasi / Persekutuan. Dan agama lain dimanapun di Malaysia diberikan kebebasan. Ketua agama adalah para Sultan  di negeri masing-masing.
Yang di-Pertuan Agong adalah Ketua Negara yang telah diperuntukkan oleh Perlembagaan. Gelaran rasmi yang penuh bagi baginda adalah Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong. Yang di-Pertuan Agong dilantik setiap lima tahun mengikut giliran yang telah ditetapkan oleh Majlis Raja-Raja.
2.      Keberadaan Agama
Berdasarkan Rukun Negara tersebut, sehingga Negara Malaysia memberikan penghormatan dan kebebasan pada tiap – tiap pemeluk agama, sebagaimana data pada tahun 2010 yang terdiri dari :
1)      Islam sebesar 61,3 %
2)      Budha sebesar 19,8 %
3)      Kristen/Katolik, sebesar 9,2 %
4)      Hindu, sebesar 6,3 %
5)      Kong Hucu, Tao, Sikh 1,3 %
6)      Lain-Lain (Tidak beragama, agama primitive, mengaku agama sendiri)
Hubungan agama  tidak ada masalah, hanya karena pengaruh media masa yang direkayasa oleh isu politik sehingga menimbulkan masalah.
Masing-masing agama diberikan penghormatan untuk mempunyai tempat ibadah, asalkan tidak mengganggu ketertiban umum dan kecemasan warga sekitar. Ada beberapa permasalahan keagamaan diantaranya : Pemahaman keagamaan, merebaknya ajaran sesat, Penyebutan kata Allah, Sholat, dan Qur’an yang sempat meresahkan warga akhirnya bisa diselesaikan secara bijak oleh keputusan Sultan. Sedang tentang penentuan hari Raya tidak ada masalah karena sudah ada bidang yang secara professional menanganinya, sehingga untuk yang mengumumkan diberikan pada Raja dibawah Majelis Raja-Raja di Keraajaan Malaysia.
Pada hari kedua, rombongan berkunjung sekaligus berdialog ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia, yang diterima Langsung oleh Kepala Sekolah Ibu Elslee Y.A. Shetyoputri, yang didampingi oleh para Wakil Kepala Sekolah dan Dewan Guru beserta para siswanya. Sekolah Indonesia Kuala Lumpur saat ini baru bisa menampung 420 siswa mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dari 2 juta jiwa Warga Negara Indonesia di Malaysia.
Dialog di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur benar-benar terkesan dalam memahami dan membina semangat nasionalisme di negeri Jiran, dimana melalui pendidikan berkarkter yang sudah diterapkan dalam setiap pembelajaran. Visi Pendidikan Berbudi dan Berbudaya, dan itu disosialisasikan disetiap hari dalam pemebelajarannya dengan menunjukkan 1 hari 1 kebaikan. Pendidikan bukan sekedar nilai angka tetapi yang lebih utama adalah nilai budi yang diambilkan dari Pancasila, dimana Sila Pertama dijadikan landasan berbudi, sehingga pemahaman dan pembinaan keagamaan benar-benar terwujudkan dalam setiap tindakannya, yang dijabarkan dalam bentuk :  Integritas,, Kejujuran, Kasih Sayang, Kepedulian, Respek, Toleransi, Demokrasi. Tanggung Jawab, Profesionalisme, Kepatutan, Kedisiplinan, Kejujuran. Sehingga para lulusannya benar-benar mampu bersaing dengan para pelajar dari berbagai Negara yang belajar di Malaysia, khususnya di Perguruan tinggi yang terkenal di Malaysia, dan putra-putri Indonesia ternyata bisa berkompetisi secara sehat dan berprestasi atas bidang yang di dalaminya.
Permasalahan pendidikan khususnya di luar Negeri, memeliki ke khususan karena menyangkut upaya memberikan perlindungan bagi seluruh WNI di Malaysia, sebagaimana misi diplomatik. Demikian pula terkait dunia pendidikan bagi WNI merupakan masalah yang berat karena kesempatan mendapatkan pendidikan sangat  terbatas baik karena faktor social ekonomi, factor geografis dan fasilitas pendidikan yang memadai. Maka diupayakanlah selama 2 tahun terakhir ini untuk bisa mendapat ijin dari Pemerintah Malaysia guna mendirikan Learning Centre bagi anak-anak TKI yang mengikuti kerja bersama para orang tuanya  yang bekerja di Perkebunan dan Buruh Pabrik. Di Kinibalu ada 50.000 anak terlantar pendidikannya dan Pemerintah Malaysia sudah memberikan ijin untuk operasionalisasi Learning Centre disama, demikian pula di Kucing Serawak ada 2.000 anak yang terlantar pendidikan dan masih ada dibeberapa daerah lainnya. Pendidikanlah yang bisa menjadi pemutus mata rantai dari problem kemiskinan disana, sehingga upaya memaksimalkan Learning Centre diharapkan mampu memberikan perubahan bagi kehidupan para TKI dan anak-anaknya. Memberikan layanan pendidikan bagi anak TKI khususnya di daerah perkebunan diharapkan menjadi perhatian serius bagi pejabat Negara Indonesia, agar upaya memberikan layanan dan perlindungan bagi WNI bisa diwujudkan secara berkeadilan.
Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I




Karakter Berderma

KARAKTER BERDERMA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Ketika banyak ragam kehidupan yang cenderung konsumtif, dengan semakin membanjirnya berbagai produk dan jasa yang menggiurkan untuk dinikmati dan dibanggakan, meski bersusah payah untuk mendapatkannya tidak menjadi penghalang dalam pemenuhan  kepuasan, persoalan harga tidak jadi pertimbangan karena semakin tinggi harganya semakin menunjukkkan prestise seseorang. Pola hidup konsumtif semakin menggila merasuki pribadi-pribadi yang menjadikan Mall sebagai media “spiritualitasnya”, di situlah terjadi berbagai transaksi yang menggiurkan, lebih-lebih adanya special discon sehingga berjubelan anak manusia membuat antrian panjang, dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan produk yang ditawarkan, tanpa mempertimbangkan resiko akibat massa yang berdesakan. Fasilitas pusat perbelanjaan, aneka kuliner, jasa kebugaran, pentas musik, dan berbagai symbol komsumtif lainnya bertaburan menawarkan produk unggulannya, seakan tersihir oleh mantra sehingga lupa akan jati dirinya, lebih-lebih didampingi para pelayan cantik dengan ramah dan senyum menggoda sehingga tak kuasa menebarkan berjuta-juta rupiah untuk mengikuti ritme ritual gaya hidup hedonisme.
Sungguh berbahagia dan sangat luar biasa ketika hantaman badai konsumtif masih bisa menampilkan sosok manusia yang  tak tergoyahkan dan  masih konsisten menjaga karakter diri untuk senantiasa peduli dan berbagi atas nikmat yang telah diberikan sebagai wujud rasa syukur yang sebenarnya. Berbagai sihir dan mantra konsumtif tidak mampu merubah karakter berderma sebagai bentuk kemuliaan diri yang sejati. Kemampuan diri berkarakter penderma pada saat ini mulai kelihatan asing, hal ini bukan dikarenakan terbatasnya financial  tetapi lebih banyak dikarenakan oleh perubahan orientasi yang cenderung mengedepankan kepuasan diri sesaat, karena ketidakmampuannya dalam memaknai spiritualitas. Kesanggupan berdema tanpa diminta dan bukan untuk pamer terlahir dari kualitas diri yang tidak terbebani oleh berbagai rayuan produk konsumtif, bahkan dia mampu mengendalikan diri serta bisa membedakaan mana yang lebih bermakna bagi kehidupannya dan mana yang bisa mencelakakannya.
Kehidupannya diusahakan untuk meraih keridhoan-Nya, dan itulah yang lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagaimana nasehat Sahabat Ali Bin Abi Tholib ra; "Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya”. Prestasi beramal soleh, diantaranya dalam bentuk berderma, untuk memberikan sebagian apa yang yang telah Allah karunikan kepada kita, sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya, sehingga mudah melakukan gerakan infaq, shodaqah, zakat, wakaf maupun hibah. Dan ditegaskan dalam Al Qur’an Surat Ali Imran : 92
`s9 (#qä9$oYs? §ŽÉ9ø9$# 4Ó®Lym (#qà)ÏÿZè? $£JÏB šcq6ÏtéB 4 $tBur (#qà)ÏÿZè? `ÏB &äóÓx« ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇÒËÈ
92.  Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Kesanggupan berderma sehingga menjadi karakter dalam kehidupannya membutuhkan proses pembelajaran dan pematangan serta pengalaman langsung, bukan sekedar diskusi dan wacana yang membosankan. Ketiga tahapan proses tersebut harus terus dimaksimalkan sehingga adanya kesinambungan dalam membentuk pemahaman pentingnya karakter berderma. Kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW beserta para Sahabatnya patut dijadikan contoh keteladanan untuk membangun kesempurnaan diri, karena dihadapan kita ada banyak tantangan dimana betapa mudahnya tayangan iklan diberbagai media dengan menghadirkan para seleberitis sebagai bintang idolanya mampu menyihir sebagian masyarakat kita dan mengalihkan perhatian pada produk yang ditawarkan, sedang layanan iklan tentang kepedulian dan mendorong untuk berderma nyaris tidak termunculkan, sehingga sangatlah wajar apa yang dibicarakan oleh anak-anak kita bahlan para orang tuanya adalah tentang produk-produk baru yang menjanjikan diskon besar-besaran untuk segera didapatkan, dan ada yang memenuhi harapan tersebut secara wajar dan rasional,bahkan ada yang dipenuhi secara tidak wajar dan bahkan melalui kekerasan untuk pemenuhan suatu produk yang ditawarkan. Ada banyak korban berjatuhan dan masih saja tidak merasakan pengeroposan jati diri, karena begitu menarik kemasannya, sehingga yang sadar menjadi kehilangan kesadaran demi pemuasan kebutuhan.
Sudah saatnya untuk komitmen membangun karakter berderma, sebelum bencana hedonisme merusak kehidupan kita yang semakin mengarah menghalalkan segala cara, dan selamatkan anak-anak kita dan generasi kita dari sikap hidup yang tidak bermakna, meski indah kemasannya dan tetap waspada karena dibalik keindahan itu telah menyimpan jeratan yang merusak kehidupan. Gaya belanja dengan mengobral harta bergerak dari Mall ke Maal, dari berbagai tempat hiburan malam hingga prostitusi dan narkoba, sehingga tidak ada sedikitpun ruang spiritualitas untuk bersyukur dan bertafakkur. Kebanggan dengan kepemilikan barang mewah (meski dengan korupsi) sehingga tidak mampu merasakan penderitaan kaum miskin yang lemah, waktunya dihabiskan untuk berfoya-foya sehingga tidak ada kesempatan untuk berbagi, mereka semakin tenggelam dalam kesesatan nyata. Dengan memohon perlindungan pada-Nya (Al Baqarah :257; Ibrahim : 1), untuk diselamatkan dari bencana keburukan meraih kemuliaan diantaranya melalui karya amal soleh (berderma). Perhatikan penderitaan saudara-saudara kita yang begitu susah payah untuk bisa melepaskan dari jeratan kemiskinan dan tetap sabar (Al Baqarah : 155)tanpa mengorbankan kemuliaan hidup, maka kedermawanan kita akan dapat memberikan harapan kepada mereka sebelum berbagai cobaan menghanyutkan kita (Al Anfaal:28). Melalui karakter berderma akan mampu meraih kemuliaan dan kebahiagian hidup dan jika meninggalkannya semakin menghinakan dan menyusahkan kehidupan kita. Raih bahagia dengan berderma.