Tampilkan postingan dengan label mulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mulia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

KIPRAH HAMBA MULIA

Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Al Furqon : 63
ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y ÇÏÌÈ
63.  Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Istilah ‘hamba’ dalam bahasa Arab adalah‘abd yang berasal dari kata kerja  ‘abada yang berakar kata dengan huruf-huruf ‘ain, ba’,dan dal. Struktur ini bermakna pokok ‘kelemahan dan kehinaan’ dan ‘kekerasan dan kekasaran’.  Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa seorang hamba pada hakekatnya lemah dan hina tidak ada bandingannya dihadapan Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga tak layaklah bagi seorang hamba melakukan kesombongan baik terhadap sesamanya lebih-lebih terhadap sang kholik (Pencipta). Seorang hamba merupakan wujud pribadi yang mampu berkiprah dengan kerendahan hati dan ucapan yang mengandung keselamatan kehidupan, menyadari keadaan ini dinamika kehidupan akan mampu meminimalkan berbagai bentuk kejahatan yang penuh kehinaan, untuk meraih kemuliaan.

Dinamika kehidupan dunia ada yang berwarna kemuliaan dan juga ada yang berwarna kehinaan, dan sangat dimungkinkan antara keduanya bisa saling bersengketa untuk mempertahankan kepentingan  yang dimilikinya, maka diutuslah para Nabi dan Rasul untuk membimbing manusia pada kebenaran menuju keselamatan, membuang segala bentuk permusuhan menuju persaudaraan. Hubungan antar manusia beserta alam sekitarnya bisa saling menghormati dan menghargai, lebih-lebih sebagai sesama hamba yang lemah tentunya sangat paham akan peran kemuliaan, sehingga figur pemimpin yang menjadi tauladan kehidupan akan mendorong proses kesadaran diri.

Keberadaan Rasulullah Muhammad SAW dalam pentas peradaban dunia ternyata mampu memberikan kontribusi besar untuk perbaikan kehidupan, ketika lingkungan sekitarnya mengedepankan permusuhan, kesewenangan, hingga pembunuhan, sapaan dakwah Rasulullah SAW mengantarkan sekaligus menyelamatkan kehidupan manusia pada kemuliaan. Kepribadiannya sungguh luar biasa dalam memberikan keteladanan kebaikan (QS:68:4), ketika tatanan social lebih mengedepankan kerendahan moral, sehingga nilai-nilai kemanusiaan runtuh dan tidak ada harganya, Uswah hasanah Rasulullah SAW mampu menjadi bintang penerang kehidupan, penyembuh luka kehidupan, mengangkat pada derajat kemuliaan. Beliaulah hamba pilihan Allah SWT yang memiliki kepekaan tinggi untuk peduli, yang memiliki kesabaran tinggi untuk memberi solusi atas problem dan jeratan kehidupan yang menghinakan.

Tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan tanggal yang bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia, karena pada saat itulah lahirnya manusia yang mulia, teragung sepanjang masa, dengan membawa misi kenabian Risalah Islam yang menyelamatkan. Sehingga Michael H Hurt dalam bukunya The 100, menempatkan Rasulullah Muhammad SAW pada ranking pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Dalam Ensiklopedi Islam, ketika beliau masih berusia 20 tahun telah mendirikan Hilful Fudul, semacam lembaga social yang menangani masalah kemiskinan dan korban keteraniayaan, sebagaimana kita ketahui para elite Jahiliyah yang begitu tega menyiksa dan menghina masyarakat Makkah yang menjadi korban kebrutalan dan kekejamannya tanpa adanya belas kasihan. Dalam Ensiklopedi Muhammad, Afzalur Rahman menyatakan, dalam tempo kurang dari satu decade , Muhammad SAW berhasil meraih berbagai prestasi yang tak mampu disamai pemimpin Negara manapun.(Republika:13-2-2011)
Pretasasi gemilang membangun peradaban manusia yang lebih beradab karena dukungan kesempurnaan ajaran Islam serta keteladanan sang pembawa risalah Islam Muhammad SAW, kekuatan inilah yang mampu merobohkan tirani kekejaman yang ditampilkan para elite jahiliyah, sehingga mereka yang cerdas tercerahkan, mereka yang tertindas diberdayakan, dan mereka yang pemberani menjadi ikhlas dalam berjuang untuk mengawal dakwah Islam.
Kepribadian yang unggul dari Rasulullah itulah yang menjadi daya dorong umat untuk meneladani sepak terjangnya baik sebagai pribadi, anggota keluarga maupun perannya di masyarakat yang lebih luas agar tetap mencerminkan nilai-nilai kemuliaan. Hamba mulia merupakan pribadi yang sehat baik secara jasmani maupun ruhani serta mampu mengambil hikmah secara cerdas atas berbagai fenomena kehidupan yang dihadapinya.
Penelitian Dr. Herbert Benson dari fakultas kedokteran Harvard University berkesimpulan keimanan memberikan banyak kedamaian dan kesehatan jiwa. Hasil penelitian David B Larson seorang ahli kesehatan masyarakat dari Amerika berkesimpulan, bahwa orang yang taat beragama sedikit mengalami stress, bahkan penyakit jantung 60 % lebih sedikit dibandingkan orang – orang  biasa dan atau yang tidak taat beragama. Interaksi kehidupan kadangkala membahagiakan dan kadang pula mengguncangkan, sehingga seorang hamba mulia akan mampu mendayagunakan segenap potensi dirinya untuk konsisten dalam perilaku yang bijak. Hasan Al Basri memberikan nasehat, wahai anak cucu Adam bagaimana mungkin kamu mendapatkan kemuliaan dalam agamamu, sedang kamu melalaikan sholat, dan janji orang mulia adalah berbuat dan menyegerakan, sedang janji orang yang hina adalah menangguhkan dan menunda-nunda.
Peradaban kehidupan ini membutuhkan kehadiran orang-orang yang mulia, dan diharapkan kita mampu menjadi bagian orang yang mulia itu untuk memperbaiki kehidupan yang telah dirusak oleh ulah orang-orang yang hina, dan jangan jadikan diri ini bagian dari orang-orang yang hina karena orientasinya hanya sebatas pemuasan nafsu belaka. Hamba mulia merupakan pribadi yang konsis mempererat kedekatan dengan sang kholiknya sekaligus berkiprah dengan teladan kebaikan.

Sabtu, 25 Februari 2012

Meraih Mulia

AKIPRAH HAMBA MULIA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Al Furqon : 63
ߊ$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# šúïÏ%©!$# tbqà±ôJtƒ n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sŒÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ šcqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y ÇÏÌÈ
63.  Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Istilah ‘hamba’ dalam bahasa Arab adalah‘abd yang berasal dari kata kerja  ‘abada yang berakar kata dengan huruf-huruf ‘ain, ba’,dan dal. Struktur ini bermakna pokok ‘kelemahan dan kehinaan’ dan ‘kekerasan dan kekasaran’.  Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa seorang hamba pada hakekatnya lemah dan hina tidak ada bandingannya dihadapan Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sehingga tak layaklah bagi seorang hamba melakukan kesombongan baik terhadap sesamanya lebih-lebih terhadap sang kholik (Pencipta). Seorang hamba merupakan wujud pribadi yang mampu berkiprah dengan kerendahan hati dan ucapan yang mengandung keselamatan kehidupan, menyadari keadaan ini dinamika kehidupan akan mampu meminimalkan berbagai bentuk kejahatan yang penuh kehinaan, untuk meraih kemuliaan.

Dinamika kehidupan dunia ada yang berwarna kemuliaan dan juga ada yang berwarna kehinaan, dan sangat dimungkinkan antara keduanya bisa saling bersengketa untuk mempertahankan kepentingan  yang dimilikinya, maka diutuslah para Nabi dan Rasul untuk membimbing manusia pada kebenaran menuju keselamatan, membuang segala bentuk permusuhan menuju persaudaraan. Hubungan antar manusia beserta alam sekitarnya bisa saling menghormati dan menghargai, lebih-lebih sebagai sesama hamba yang lemah tentunya sangat paham akan peran kemuliaan, sehingga figur pemimpin yang menjadi tauladan kehidupan akan mendorong proses kesadaran diri.

Keberadaan Rasulullah Muhammad SAW dalam pentas peradaban dunia ternyata mampu memberikan kontribusi besar untuk perbaikan kehidupan, ketika lingkungan sekitarnya mengedepankan permusuhan, kesewenangan, hingga pembunuhan, sapaan dakwah Rasulullah SAW mengantarkan sekaligus menyelamatkan kehidupan manusia pada kemuliaan. Kepribadiannya sungguh luar biasa dalam memberikan keteladanan kebaikan (QS:68:4), ketika tatanan social lebih mengedepankan kerendahan moral, sehingga nilai-nilai kemanusiaan runtuh dan tidak ada harganya, Uswah hasanah Rasulullah SAW mampu menjadi bintang penerang kehidupan, penyembuh luka kehidupan, mengangkat pada derajat kemuliaan. Beliaulah hamba pilihan Allah SWT yang memiliki kepekaan tinggi untuk peduli, yang memiliki kesabaran tinggi untuk memberi solusi atas problem dan jeratan kehidupan yang menghinakan.

Tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan tanggal yang bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia, karena pada saat itulah lahirnya manusia yang mulia, teragung sepanjang masa, dengan membawa misi kenabian Risalah Islam yang menyelamatkan. Sehingga Michael H Hurt dalam bukunya The 100, menempatkan Rasulullah Muhammad SAW pada ranking pertama sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Dalam Ensiklopedi Islam, ketika beliau masih berusia 20 tahun telah mendirikan Hilful Fudul, semacam lembaga social yang menangani masalah kemiskinan dan korban keteraniayaan, sebagaimana kita ketahui para elite Jahiliyah yang begitu tega menyiksa dan menghina masyarakat Makkah yang menjadi korban kebrutalan dan kekejamannya tanpa adanya belas kasihan. Dalam Ensiklopedi Muhammad, Afzalur Rahman menyatakan, dalam tempo kurang dari satu decade , Muhammad SAW berhasil meraih berbagai prestasi yang tak mampu disamai pemimpin Negara manapun.(Republika:13-2-2011)
Pretasasi gemilang membangun peradaban manusia yang lebih beradab karena dukungan kesempurnaan ajaran Islam serta keteladanan sang pembawa risalah Islam Muhammad SAW, kekuatan inilah yang mampu merobohkan tirani kekejaman yang ditampilkan para elite jahiliyah, sehingga mereka yang cerdas tercerahkan, mereka yang tertindas diberdayakan, dan mereka yang pemberani menjadi ikhlas dalam berjuang untuk mengawal dakwah Islam.
Kepribadian yang unggul dari Rasulullah itulah yang menjadi daya dorong umat untuk meneladani sepak terjangnya baik sebagai pribadi, anggota keluarga maupun perannya di masyarakat yang lebih luas agar tetap mencerminkan nilai-nilai kemuliaan. Hamba mulia merupakan pribadi yang sehat baik secara jasmani maupun ruhani serta mampu mengambil hikmah secara cerdas atas berbagai fenomena kehidupan yang dihadapinya.
Penelitian Dr. Herbert Benson dari fakultas kedokteran Harvard University berkesimpulan keimanan memberikan banyak kedamaian dan kesehatan jiwa. Hasil penelitian David B Larson seorang ahli kesehatan masyarakat dari Amerika berkesimpulan, bahwa orang yang taat beragama sedikit mengalami stress, bahkan penyakit jantung 60 % lebih sedikit dibandingkan orang – orang  biasa dan atau yang tidak taat beragama. Interaksi kehidupan kadangkala membahagiakan dan kadang pula mengguncangkan, sehingga seorang hamba mulia akan mampu mendayagunakan segenap potensi dirinya untuk konsisten dalam perilaku yang bijak. Hasan Al Basri memberikan nasehat, wahai anak cucu Adam bagaimana mungkin kamu mendapatkan kemuliaan dalam agamamu, sedang kamu melalaikan sholat, dan janji orang mulia adalah berbuat dan menyegerakan, sedang janji orang yang hina adalah menangguhkan dan menunda-nunda.
Peradaban kehidupan ini membutuhkan kehadiran orang-orang yang mulia, dan diharapkan kita mampu menjadi bagian orang yang mulia itu untuk memperbaiki kehidupan yang telah dirusak oleh ulah orang-orang yang hina, dan jangan jadikan diri ini bagian dari orang-orang yang hina karena orientasinya hanya sebatas pemuasan nafsu belaka. Hamba mulia merupakan pribadi yang konsis mempererat kedekatan dengan sang kholiknya sekaligus berkiprah dengan teladan kebaikan.

Sabtu, 12 November 2011

ZAKAT, DAYA HIDUP KEMULIAAN

Oleh :
Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya; Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surabaya

Zakat secara bahasa (lughat), berarti: tumbuh; berkembang; kesuburan atau bertambah atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan, sehingga zakat memiliki peran penting dalam dinamika kehidupan manusia agar menjadi pribadi yang berpola hidup bersih hingga meraih  kemuliaan.
Para Muzaki bukan sekadar memberi atas harta yang dimiliki  tetapi ada kesadaran tinggi untuk menjadikan pribadi yang unggul karena tidak dibelenggu harta yang dimiliki;  menjadi pribadi yang berprestasi karena dia mampu mengalahkan segala nafsu keserakahan hingga kehinaan; menjadi pribadi yang  Peduli karena sadar  bahwa harta yang dimiliki masih ada hak bagi orang lain untuk merasakan kesejahteraan. Berzakat sungguh luar biasa karena mampu menunjukkan ketaatan pada-Nya sekaligus kepedulian terhadap sesamanya.
Hidup mulia adalah harapan kita semua, hal itu bisa ditapaki melalui berzakat, karena mampu beristiqomah  melepaskan belenggu kehinaan seperti kekikiran, kesombongan , sehingga harta yang dimilikinya mampu memberikan daya hidup bagi manusia lainnya, dan hidup yang hina karena enggan menunaikan zakat, aktivitas hidupnya hanya berpesta menghamburkan harta tanpa peduli dengan derita yang ada disekelilingnya, gaya hidupnya semakin terjerat dengan penggunaan harta yang justru membuatnya hina.
Kesadaran berzakat harus terus ditumbuhkan karena akan mampu menumbuhkan kemuliaan, serta membersihkan dari segala sifat kerendahan.  Seharusnya kita malu, karena berharta tetapi tidak berzakat, dan hal itu justru akan semakin membawa pada kehidupan yang tidak bermutu, hidupnya gelisah karena serakah. Berzakatlah, karena akan menumbuhkan harta, menambah persaudaraan serta mensucikan dari segala sifat kerendahan.
Rasulullah Muhammad SAW memberikan nasehat tentang betapa hebatnya seseorang yang mampu memberikan sebagian hartanya dijalan-Nya, sebagaimana, hadis riwayat Abu Hurairah ra.:  Dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan salat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya. (Shahih Muslim No.1712).
Ada banyak perintah ibadah dalam ajaran Islam membutuhkan daya dukung harta, seperti  halnya berzakat, hal ini menunjukkan bahwa umat ini seharusnya menjadi umat yang unggul dalam berharta baik dari aspek mencari maupun dalam mengelolanya, sehingga berbagai aspek ibadah tersebut bisa ditunaikan secara maksimal. Al Qur'an telah memberikan petunjuk khususnya dalam pengelolaan harta kekayaan, diantaranya : Pertama, Larangan mencampuradukkan antara harta yang halal dan yang bathil (QS:89:19). Kedua. Larangan mencintai harta secara berlebihan (QS:89:20). Ketiga,  Proporsional dalam beribadah dan berniaga (QS:62:9-11),  Keempat, Menginfaqkan sebagian harta (QS:57:7). Kelima, pada harta kita ada hak bagi orang miskin (QS:51:19).
Berzakat sangat menentukan ke-Islaman seseorang, apakah dia bersungguh-sungguh dengan ke-Islamannya dan meraih kesempurnaan ataukah melakukan kebohongan dalam ber-Islamnya dengan tidak berzakat, padahal dalam Al Qur'an setidak terdapat 27 ayat yang menyandingkan dengan kewajiban menjalankan Sholat, memuji atas mereka yang berzakat dan sebaliknya  mengancam bagi mereka yang melalaikannya.
Komitmen dalam berzakat inilah yang akan mampu membukakan betapa hebat  dan bermartabatnya mereka yang berzakat, sehingga kemuliaan terwujudkan. Zakat itu hebat dan bermartabat, karena zakat mampu membangun kehidupan masyarakat yang bersih, barokah dan terus berkembang, sehingga menjadikan diri ini sadar bahwa pada harta yang kita miliki itu ada hak orang lain, kesuksesan yang kita raih sejatinya ada kontribusi dari peran orang lain.
Maka segeralah menunaikan zakat agar diri ini semakin bermartabat dan terhormat,  jangan melalaikannya karena semakin menunjukkan sebagai orang yang sangat hina. Sudah banyak bukti mereka yang berzakat semakin meraih kesuksesan dari buah kebaikan yang dilakukan, demikian juga ada banyak bukti mereka yang melalaikan zakat akan semakin mengarah pada kebangkrutan ekonomi dan kerendahan martabat.
Hidup berzakat akan mensucikan harta, dan memuliakan serta menjamin rasa aman dalam kehidupan dimasyarakat, karena berbagai bentuk kekerasan dan kriminal berawal dari desakan kebutuhan ekonomi yang memprihatinkan, untuk itu berzakatlah agar kesejahteraan semakin nyata. Zakat memang menjadi daya hidup untuk meraih kemuliaan. **