Tampilkan postingan dengan label Berderma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berderma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

KARAKTER BERDERMA

Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Ketika banyak ragam kehidupan yang cenderung konsumtif, dengan semakin membanjirnya berbagai produk dan jasa yang menggiurkan untuk dinikmati dan dibanggakan, meski bersusah payah untuk mendapatkannya tidak menjadi penghalang dalam pemenuhan  kepuasan, persoalan harga tidak jadi pertimbangan karena semakin tinggi harganya semakin menunjukkkan prestise seseorang. Pola hidup konsumtif semakin menggila merasuki pribadi-pribadi yang menjadikan Mall sebagai media “spiritualitasnya”, di situlah terjadi berbagai transaksi yang menggiurkan, lebih-lebih adanya special discon sehingga berjubelan anak manusia membuat antrian panjang, dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan produk yang ditawarkan, tanpa mempertimbangkan resiko akibat massa yang berdesakan. Fasilitas pusat perbelanjaan, aneka kuliner, jasa kebugaran, pentas musik, dan berbagai symbol komsumtif lainnya bertaburan menawarkan produk unggulannya, seakan tersihir oleh mantra sehingga lupa akan jati dirinya, lebih-lebih didampingi para pelayan cantik dengan ramah dan senyum menggoda sehingga tak kuasa menebarkan berjuta-juta rupiah untuk mengikuti ritme ritual gaya hidup hedonisme.
Sungguh berbahagia dan sangat luar biasa ketika hantaman badai konsumtif masih bisa menampilkan sosok manusia yang  tak tergoyahkan dan  masih konsisten menjaga karakter diri untuk senantiasa peduli dan berbagi atas nikmat yang telah diberikan sebagai wujud rasa syukur yang sebenarnya. Berbagai sihir dan mantra konsumtif tidak mampu merubah karakter berderma sebagai bentuk kemuliaan diri yang sejati. Kemampuan diri berkarakter penderma pada saat ini mulai kelihatan asing, hal ini bukan dikarenakan terbatasnya financial  tetapi lebih banyak dikarenakan oleh perubahan orientasi yang cenderung mengedepankan kepuasan diri sesaat, karena ketidakmampuannya dalam memaknai spiritualitas. Kesanggupan berdema tanpa diminta dan bukan untuk pamer terlahir dari kualitas diri yang tidak terbebani oleh berbagai rayuan produk konsumtif, bahkan dia mampu mengendalikan diri serta bisa membedakaan mana yang lebih bermakna bagi kehidupannya dan mana yang bisa mencelakakannya.
Kehidupannya diusahakan untuk meraih keridhoan-Nya, dan itulah yang lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagaimana nasehat Sahabat Ali Bin Abi Tholib ra; "Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya”. Prestasi beramal soleh, diantaranya dalam bentuk berderma, untuk memberikan sebagian apa yang yang telah Allah karunikan kepada kita, sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya, sehingga mudah melakukan gerakan infaq, shodaqah, zakat, wakaf maupun hibah. Dan ditegaskan dalam Al Qur’an Surat Ali Imran : 92
`s9 (#qä9$oYs? §ŽÉ9ø9$# 4Ó®Lym (#qà)ÏÿZè? $£JÏB šcq6ÏtéB 4 $tBur (#qà)ÏÿZè? `ÏB &äóÓx« ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇÒËÈ
92.  Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Kesanggupan berderma sehingga menjadi karakter dalam kehidupannya membutuhkan proses pembelajaran dan pematangan serta pengalaman langsung, bukan sekedar diskusi dan wacana yang membosankan. Ketiga tahapan proses tersebut harus terus dimaksimalkan sehingga adanya kesinambungan dalam membentuk pemahaman pentingnya karakter berderma. Kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW beserta para Sahabatnya patut dijadikan contoh keteladanan untuk membangun kesempurnaan diri, karena dihadapan kita ada banyak tantangan dimana betapa mudahnya tayangan iklan diberbagai media dengan menghadirkan para seleberitis sebagai bintang idolanya mampu menyihir sebagian masyarakat kita dan mengalihkan perhatian pada produk yang ditawarkan, sedang layanan iklan tentang kepedulian dan mendorong untuk berderma nyaris tidak termunculkan, sehingga sangatlah wajar apa yang dibicarakan oleh anak-anak kita bahlan para orang tuanya adalah tentang produk-produk baru yang menjanjikan diskon besar-besaran untuk segera didapatkan, dan ada yang memenuhi harapan tersebut secara wajar dan rasional,bahkan ada yang dipenuhi secara tidak wajar dan bahkan melalui kekerasan untuk pemenuhan suatu produk yang ditawarkan. Ada banyak korban berjatuhan dan masih saja tidak merasakan pengeroposan jati diri, karena begitu menarik kemasannya, sehingga yang sadar menjadi kehilangan kesadaran demi pemuasan kebutuhan.
Sudah saatnya untuk komitmen membangun karakter berderma, sebelum bencana hedonisme merusak kehidupan kita yang semakin mengarah menghalalkan segala cara, dan selamatkan anak-anak kita dan generasi kita dari sikap hidup yang tidak bermakna, meski indah kemasannya dan tetap waspada karena dibalik keindahan itu telah menyimpan jeratan yang merusak kehidupan. Gaya belanja dengan mengobral harta bergerak dari Mall ke Maal, dari berbagai tempat hiburan malam hingga prostitusi dan narkoba, sehingga tidak ada sedikitpun ruang spiritualitas untuk bersyukur dan bertafakkur. Kebanggan dengan kepemilikan barang mewah (meski dengan korupsi) sehingga tidak mampu merasakan penderitaan kaum miskin yang lemah, waktunya dihabiskan untuk berfoya-foya sehingga tidak ada kesempatan untuk berbagi, mereka semakin tenggelam dalam kesesatan nyata. Dengan memohon perlindungan pada-Nya (Al Baqarah :257; Ibrahim : 1), untuk diselamatkan dari bencana keburukan meraih kemuliaan diantaranya melalui karya amal soleh (berderma). Perhatikan penderitaan saudara-saudara kita yang begitu susah payah untuk bisa melepaskan dari jeratan kemiskinan dan tetap sabar (Al Baqarah : 155)tanpa mengorbankan kemuliaan hidup, maka kedermawanan kita akan dapat memberikan harapan kepada mereka sebelum berbagai cobaan menghanyutkan kita (Al Anfaal:28). Melalui karakter berderma akan mampu meraih kemuliaan dan kebahiagian hidup dan jika meninggalkannya semakin menghinakan dan menyusahkan kehidupan kita. Raih bahagia dengan berderma.

Sabtu, 25 Februari 2012

Berderma

KOMITMEN BERDERMA
Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Prosesi ibadah haji telah usai, dan diharapkan sepulangnya menjadi haji Mabrur, karena senantiasa komitmen menjaga prestasi ibadah hajinya sebagai bentuk ketaatan dan kesadaran diri menjadi pribadi yang ihlas beramal, murni ketauhidan dan menjauhi kemusyrikan, teguh dalam beribadah untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, menyadari pentingnya persaudaraan menjauhi permusuhan serta lebih peduli untuk berbagi dengan kedermawanan. Ritual ibadah haji membutuhkan daya dukung yang begitu sempurna, baik dari aspek material, ketahanan fisik, kekuatan spiritual dan lainnya, sehingga mampu untuk memposisikan diri sebagai orang yang mulia, Dan apapun profesinya senantiasa komitmen memberikan kebaikan, keteladanan dan kedermawanan, karena berbagai sifat kerendahan telah disingkirkan, egoisme telah diruntuhkan menjadi pejuang kemanusiaan, keserakahan yang tak terbatas bagai binatang yang liar dan beringas menjadi penderma dan keramahan.
Penyembelihan ternak qurbanpun telah dilakukan untuk terus berbagi memberikan yang terbaik kepada masyarakat yang membutuhkan, karena kesejahteraan yang diharapkan masih jauh dari harapan bahkan kurang diperhatikan, maka dengan berqurban itu telah mampu memberikan secara sempurna baik dari aspek kualitas maupun kuantitas, Komitmen kedermawanan ini seharusnya tidak sebatas ketika adanya moment special tetapi adanya proses berkelanjutan, sebab ketika menangani kemiskinan tidak mungkin terpecahkan hanya dalam hitungan hari, tetapi ada program yang jelas, dengan skedul kerja yang nyata dan adanya target yang diharapkan secara berkelanjutan.
Kedermawanan dan Kemuliaan
Kedermawanan merupakan sikap kepedulian kita terhadap sesama yang menjadi bagian kehidupan kita, sehingga ketika kita memberi derma, bukan sekedar menutupi beberapa hari akibat kemiskinannya tetapi berusaha untuk menjadikan mereka bisa mandiri meraih kesejahteraan dan terus mengembangkan pada pribadi-pribadi yang lainnya. Hal seperti ini seharusnya bisa dilakukan di masjid-masjid kita sebagai pusat dakwah Islam dan pemberdayaan masyarakat, sehingga aktivitas social di masjid tidak sekedar ketika ada moment Idul Fitri dan Idul Adha saja, tetapi bisa berkelanjutan. Sebagaimana perjuangan Nabi Ibrahim AS berserta keluarganya yang mampu berkomitmen menjaga aqidah tauhid meski dengan perjuangan yang berat dan panjang tidak menghalanginya untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan kehidupan, sehingga tetap berada di atas jalan yang lurus.
Komitmen berderma merupakan kemuliaan yang sempurna, sebab apa yang kita miliki termasuk diri kita juga adalah kepunyaan Allah, sehingga ketika kita melakukan kebaikan maka Allah SWT pun ridho (menyetujui). Allah adalah pemilik dan penguasa pada seluruh kehidupan ini, sehingga manusia tidak bebas  memperlakukan dirinya sesuai kehendaknya, maka ketundukan manusia pada-Nya merupakan wujud komitmennya baik dalam beribadah dan termasuk berderma, sehingga sangatlah rugi bila kita mengingkari untuk taat pada-Nya.
Kedermawanan kita merupakan bukti kemuliaan dan kesempurnaan kehidupan kita, sehingga ketika mampu konsisten dalam berderma tidaklah mungkin Allah SWT murka dan menghinakan kita, jutru akan ada banyak kebaikan yang melebihi apa yang telah dilakukan, maka disinilah esensi berderma sebagai upaya menuju kemuliaan kehidupan, dan keenggaran berderma justru menjatuhkan martabat dan kehidupannya, bahkan tetangga sekitar mencemooh sebagai figur yang tidak patut diteladani karena kerakusan, kesombongan dan tidak adanya kepeduliaan terhadap tetangga sekitar padahal telah berkemampuan untuk melakukan kedermawanan. Rosulullah Muhammad SAW telah memberikan keteladanan yang begitu sempurna khususnya dalam kedermawanan, yang digambarkan sebagai orang yang paling (cepat) melakukan kedermawanan dengan kebaikan daripada hembusan angin (Shahih Bukhori – Muslim). Kecepatan berderma karena cerdas menangkap peluang, sehingga tidak ingin kesempatan itu berlalu begitu saja. Bahkan dari Jabir Ra berkata, Tidaklah pernah sama sekali Rasulullah Muhammad SAW diminta suatu (harta) lalu beliau berkata tidak. (Mutafaq Alaih). Hal ini menunjukkan betapa selalu siapnya Rasulullah bersama keluarganya meski dalam kondisi keterbatasan ekonomi, tetapi untuk urusan kedermawanan selalu diprioritaskan.
Aksi Pemurtatan
Gerakan kedermawanan harus berkelanjutan dan terus berkembang, agar upaya perbaikan itu tidak berhenti ditengah jalan sehingga target pembinaan tidak memenuhi harapan, dan ketika terjadi penelantaran dan hilang kepedulian kita, maka beberapa pihak lain yang selama ini senantiasa komitmen melakukan pembinaan dan kepedulian akan menguasai mereka dengan target-target tertentu yang dikemas simpatik  sehingga pemurtatan yang disembunyikan bisa terwujudkan. Kelengahan dan ketidak konsistenan kita dalam berderma berdampak serius, dimana mereka yang dhuafa’ , miskin, lemah dan terpinggirkan yang kurang kita perhatikan, kurang kita sapa, dan kurang disantuni serta kurang dilayani kesehatannya, akan menjauhi dan meninggalkan kita, bahkan lebih pas dan puas karena dilayani dengan kepedulian yang tinggi oleh mereka yang selama ini berinteraksi secara intensif dan komunikatif serta familier memenuhi kebutuhan mereka. Makanan keseharian dan kesehatan tubuh diperhatikan, bahkan ada pinjaman modal usaha yang meringankan serta dibina untuk tangguh dalam bekerja dan sabar menghadapi ujian, maka persepsi ketuhanan mereka ditujukan kepada yang melayaninya.
Masjid sebagai pusat dakwah Islam bersama para jama’ahnya seharusnya peka terhadap problematika warga sekitar khususnya pada kantong-kantong kemiskinan dan kekumuhan, gelandangan dan kehidupan dibawah kolong jembatan, serta disekitar lintasan sungai, lintasan rel kereta api yang jauh dari kelayakan. Justru potret inilah yang menjadi target utama program pemurtatan, karena memang lebih meyakinkan, dan konsep Tuhan yang maha pemberi benar-benar direalisasikan untuk kepedulian, pembelaan dan kemanusiaan. Semoga kita senantiasa konsis berderma untuk sadar melakukan perbaikan kehidupan, sehingga  kemuliaan nyata adanya

Karakter Berderma

KARAKTER BERDERMA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Ketika banyak ragam kehidupan yang cenderung konsumtif, dengan semakin membanjirnya berbagai produk dan jasa yang menggiurkan untuk dinikmati dan dibanggakan, meski bersusah payah untuk mendapatkannya tidak menjadi penghalang dalam pemenuhan  kepuasan, persoalan harga tidak jadi pertimbangan karena semakin tinggi harganya semakin menunjukkkan prestise seseorang. Pola hidup konsumtif semakin menggila merasuki pribadi-pribadi yang menjadikan Mall sebagai media “spiritualitasnya”, di situlah terjadi berbagai transaksi yang menggiurkan, lebih-lebih adanya special discon sehingga berjubelan anak manusia membuat antrian panjang, dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan produk yang ditawarkan, tanpa mempertimbangkan resiko akibat massa yang berdesakan. Fasilitas pusat perbelanjaan, aneka kuliner, jasa kebugaran, pentas musik, dan berbagai symbol komsumtif lainnya bertaburan menawarkan produk unggulannya, seakan tersihir oleh mantra sehingga lupa akan jati dirinya, lebih-lebih didampingi para pelayan cantik dengan ramah dan senyum menggoda sehingga tak kuasa menebarkan berjuta-juta rupiah untuk mengikuti ritme ritual gaya hidup hedonisme.
Sungguh berbahagia dan sangat luar biasa ketika hantaman badai konsumtif masih bisa menampilkan sosok manusia yang  tak tergoyahkan dan  masih konsisten menjaga karakter diri untuk senantiasa peduli dan berbagi atas nikmat yang telah diberikan sebagai wujud rasa syukur yang sebenarnya. Berbagai sihir dan mantra konsumtif tidak mampu merubah karakter berderma sebagai bentuk kemuliaan diri yang sejati. Kemampuan diri berkarakter penderma pada saat ini mulai kelihatan asing, hal ini bukan dikarenakan terbatasnya financial  tetapi lebih banyak dikarenakan oleh perubahan orientasi yang cenderung mengedepankan kepuasan diri sesaat, karena ketidakmampuannya dalam memaknai spiritualitas. Kesanggupan berdema tanpa diminta dan bukan untuk pamer terlahir dari kualitas diri yang tidak terbebani oleh berbagai rayuan produk konsumtif, bahkan dia mampu mengendalikan diri serta bisa membedakaan mana yang lebih bermakna bagi kehidupannya dan mana yang bisa mencelakakannya.
Kehidupannya diusahakan untuk meraih keridhoan-Nya, dan itulah yang lebih utama dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagaimana nasehat Sahabat Ali Bin Abi Tholib ra; "Kebaikan bukanlah memiliki harta melimpah dan anak banyak. Akan tetapi, kebaikan adalah jika amalmu banyak, ilmumu luas dan engkau tidak menyombongkan diri kepada orang lain dengan ibadahmu kepada Allah swt. Jika berbuat baik, engkau segera bersyukur kepada Allah swt dan jika berbuat buruk segera memohon ampun kepada-Nya”. Prestasi beramal soleh, diantaranya dalam bentuk berderma, untuk memberikan sebagian apa yang yang telah Allah karunikan kepada kita, sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya, sehingga mudah melakukan gerakan infaq, shodaqah, zakat, wakaf maupun hibah. Dan ditegaskan dalam Al Qur’an Surat Ali Imran : 92
`s9 (#qä9$oYs? §ŽÉ9ø9$# 4Ó®Lym (#qà)ÏÿZè? $£JÏB šcq6ÏtéB 4 $tBur (#qà)ÏÿZè? `ÏB &äóÓx« ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇÒËÈ
92.  Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Kesanggupan berderma sehingga menjadi karakter dalam kehidupannya membutuhkan proses pembelajaran dan pematangan serta pengalaman langsung, bukan sekedar diskusi dan wacana yang membosankan. Ketiga tahapan proses tersebut harus terus dimaksimalkan sehingga adanya kesinambungan dalam membentuk pemahaman pentingnya karakter berderma. Kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW beserta para Sahabatnya patut dijadikan contoh keteladanan untuk membangun kesempurnaan diri, karena dihadapan kita ada banyak tantangan dimana betapa mudahnya tayangan iklan diberbagai media dengan menghadirkan para seleberitis sebagai bintang idolanya mampu menyihir sebagian masyarakat kita dan mengalihkan perhatian pada produk yang ditawarkan, sedang layanan iklan tentang kepedulian dan mendorong untuk berderma nyaris tidak termunculkan, sehingga sangatlah wajar apa yang dibicarakan oleh anak-anak kita bahlan para orang tuanya adalah tentang produk-produk baru yang menjanjikan diskon besar-besaran untuk segera didapatkan, dan ada yang memenuhi harapan tersebut secara wajar dan rasional,bahkan ada yang dipenuhi secara tidak wajar dan bahkan melalui kekerasan untuk pemenuhan suatu produk yang ditawarkan. Ada banyak korban berjatuhan dan masih saja tidak merasakan pengeroposan jati diri, karena begitu menarik kemasannya, sehingga yang sadar menjadi kehilangan kesadaran demi pemuasan kebutuhan.
Sudah saatnya untuk komitmen membangun karakter berderma, sebelum bencana hedonisme merusak kehidupan kita yang semakin mengarah menghalalkan segala cara, dan selamatkan anak-anak kita dan generasi kita dari sikap hidup yang tidak bermakna, meski indah kemasannya dan tetap waspada karena dibalik keindahan itu telah menyimpan jeratan yang merusak kehidupan. Gaya belanja dengan mengobral harta bergerak dari Mall ke Maal, dari berbagai tempat hiburan malam hingga prostitusi dan narkoba, sehingga tidak ada sedikitpun ruang spiritualitas untuk bersyukur dan bertafakkur. Kebanggan dengan kepemilikan barang mewah (meski dengan korupsi) sehingga tidak mampu merasakan penderitaan kaum miskin yang lemah, waktunya dihabiskan untuk berfoya-foya sehingga tidak ada kesempatan untuk berbagi, mereka semakin tenggelam dalam kesesatan nyata. Dengan memohon perlindungan pada-Nya (Al Baqarah :257; Ibrahim : 1), untuk diselamatkan dari bencana keburukan meraih kemuliaan diantaranya melalui karya amal soleh (berderma). Perhatikan penderitaan saudara-saudara kita yang begitu susah payah untuk bisa melepaskan dari jeratan kemiskinan dan tetap sabar (Al Baqarah : 155)tanpa mengorbankan kemuliaan hidup, maka kedermawanan kita akan dapat memberikan harapan kepada mereka sebelum berbagai cobaan menghanyutkan kita (Al Anfaal:28). Melalui karakter berderma akan mampu meraih kemuliaan dan kebahiagian hidup dan jika meninggalkannya semakin menghinakan dan menyusahkan kehidupan kita. Raih bahagia dengan berderma.