Jumat, 14 Oktober 2011

FILANTROPI MAKSIMAL

Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Di tengah perputaran arus globalisasi yang semakin cepat membuat manusia semakin berkompetisi tinggi bahkan ada yang cenderung melakukan ekploitasi untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya tanpa peduli dengan dampak yang diakibatkannya baik yang berupa kerusakan lingkungan maupun kondisi social ekonomi dimana antara kemiskinan dan kemakmuran tidak sebanding seperti sebuah segitiga, posisi puncak yang kecil diduduki oleh mereka yang telah memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran bahkan berlebihan, penuh kemewahan sedang dibawahnya yang luas dan mendominasi diduduki oleh masyarakat miskin, yang terlantar dan kurang diperhatikan. Kenyataan seperti ini akan berdampak timbulnya kecemburuan social bahkan bisa jadi terjadinya konflik social, karena tidak ada kepedulian dari yang kaya terhadap masyarakat miskin bahkan menghinanya.
Ajaran Islam memiliki akar yang kuat terhadap masyarakat yang miskin dan tertindas untuk terus melakukan kepedulian dan pemberdayaan, sehingga mereka bisa hidup berdampingan secara harmonis. Sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad SAW beserta para Sahabatnya senantiasa melakukan kepedulian dan keberpihakan pada mereka yang lemah dan terlantar untuk bisa menikmati kesejahteraan dan keadilan. Gambaran tersebut diistilahkan Filantropi yang sering diterjemahkan dengan “ Kedermawanan Sosial”, melalui pemanfaatan dana Zakat, Infaq, Shodaqoh, Hibah dan Wakaf. Sejarah telah membuktikan bagaimana Sahabat Abu Bakar Ash Shidiq yang begitu maksimal melakukan filantropi secara maksimal atas harta yang dimilikinya untuk membantu perjuangan Rasulullah, begitu pula Khalifah Umar bin Khattab r.a., khalifah Islam kedua, memiliki kepedulian social yang tinggi bahkan setiap kali akan ditetapkan eksekusi potong tangan kepada seorang terdakwa kasus pencurian selalu bertanya kepada si pencuri:“Apakah ada orang kaya di wilayah tempat tinggalmu yang peduli dan selalu mengeluarkan zakat?” ketika  jawabannya “tidak,” maka Umar pun tak segan-segan memanggil dan menghukum orang kaya yang pelit dengan hukuman yang ditetapkan kepada sipencuri. Problem kesejahteraan terjadi karena tidak adanya kedermawanan social yang maksimal, mereka hanya memberi sekedarnya saja, padahal berkemampuan untuk memberikan secara maksimal, dan akan memberikan secara maksimal manakala diekpos secara besar-besaran, dan itu sangat jauh dari ketulusan dalam melakukan kedermawanan social.
            Melakukan filantropi secara maksimal bukan sekedar peduli pada nilai kemanusiaan tetapi lebih jauh dari itu adanya kesadaran teologis untuk menjadi manusia yang unggul baik secara social maupun secara spiritual. Dan sudahkan orang-orang kaya itu melakukan filantropi secara maksimal dan terus dilakukan untuk dijadikan trend dalam kehidupan, sebab berdasarkan data yang ada menurut kajian Asian Development Bank (ADB) potensi zakat di Indonesia mencapai Rp100 triliun, sementara zakat yang terkumpul oleh Baznas masih sangat kecil. pada 2007 dana zakat yang terkumpul di Baznas mencapai Rp450 miliar, 2008 meningkat menjadi Rp920 miliar, dan pada 2009 tumbuh menjadi RP 1,2 triliun. "Untuk tahun 2010, dengan berbagai program sosialisasi, Baznas  bisa terkumpul mencapai Rp1,5 triliun, berarti masih sangat besar dana zakat itu yang belum dikeluarkan dan masih tersimpan dalam saku kita. Upaya membangun kesadaran untuk filantropi secara maksimal, bisa belajar atas perilaku filantropis para orang kaya di Amerika Serikat, menurut majalah Forbes pada tahun 2011 Bill Gates pendiri Microsof menjadi orang terkaya di Amerika Serikat, dengan kekayaan US$ 59 Miliar atau sekitar Rp 549,5 trilyun, posisi kedua Warren Buffet seorang investor US$ 39 miliar atau sekitar Rp 363,2 trilyun, dan keduanya selalu memprovokasi para pengsaha lainnya untuk melakukan filantropis menjadi bagian hidupnya, dan disalurkan untuk pendanaan bantuan kemanusiaan dibidang kesehatan dan pembangunan global.
            Al Qur’an telah banyak memberikan petunjuk kepada kita tentang tata kelola atas harta yang  kita miliki, diantaranya : kekayaan kita sesungguhnya milik Allah SWT dan dititipkan kepada kita untuk dikelola secara baik (An-Nur:33; Al Anfaal : 28); jangan kikir dan boros dalam menggunakan harta (Al Furqon : 67, Al Isro’ :28); pada harta kita ada hak bagi orang miskin (Al Ma’arij : 24; Adz Dzariyat :19); merupakan kejahatan bila cenderung menumpuk harta tanpa ada kepedulian dan kedermawanan (Al Humazah :2-3, Al Hasyr:7);Kebajikan yang sempurna dengan kepedulian dan kedermawanan (Ali Imron:92) Selanjutnya Imam Ghazali member nasehat: “Jangan berteman yang hanya mau menemanimu ketika kamu sehat atau kaya, karena tipe teman seperti itu sungguh berbahaya sekali bagi kamu dibelakang hari”. Semoga kita menjadi orang yang pertama dan utama dalam melakukan kedermawanan social, sebagai bentuk ketaatan yang sejati pada-Nya.

Minggu, 02 Oktober 2011

Tokoh Agama Kecam Anarkisme

Tokoh Lintas Agama Kecam Aksi Terorisme

Fotografer - Rois Jajeli
  Share : Facebook Share to Twitter mail
Tokoh Lintas Agama Kecam Aksi Terorisme
Dalam aksinya, massa yang terdiri dari warga NU, Muhammadiyah, PGI Surabaya, PGPI Surabaya, PGLII Surabaya, PHDI Surabaya, MBI Surabaya, Walubi Surabaya, Keuskupan Surabaya, Majelis Konghucu Surabaya dan GP Ansor Surabaya mengibarkan bendera merah putih.

TOKOH AGAMA KECAM ANARKISME

Merebaknya kembali aksi anarkisme dan terorisme yang sering mengkaitkan keyakinan agama dengan menjadikan diri sebagai obyek bom bunuh diri terulang kembali pada sasaran gereja di Solo, pada hari ahad 25 Septerber 2011, yang membuat para umat beragama tidak sekedar trauma ketakutan tetapi lebih dari itu telah terkoyaknya kerukunan dan persaudaraan antar umat beragama yang selama ini sudah terbangun secara baik, sehingga bila kita tidak cerdas dan bijak atas problematika ini bisa menimbulkan dendam dan kecurigaan dalam kehidupan umat beragama. Sungguh konyol dan tidak berperikemanusian atas pelaku dan otak perancang aksi bom bunuh diri ini, dimana rumah ibadah baik itu masjid dan gereja telah menjadi sasaran mereka yang tidak memiliki spirit keagamaan sejati, hanya di dominasi emosi dan dendam untuk suksesnya permusuhan meski ada korban jiwa yang sia-sia. Peledakan bom tersebut patut kita kecam dan kita lawan, karena telah melakukan anarkisme, lebih-lebih menyalahgunakan agama untuk pembenar aksi brutalnya.

Ketika umat ini untuk selalu merapatkan persaudaraan sejati, ternyata masih ada yang memiliki wawasan sempit dan program jahat untuk memecah belah umat dan saling bermusuhan. Kondisi ini sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka para tokoh agama dengan penuh ketulusan tergerak untuk antisipasi agar bangsa ini tidak terpecah akibat ulah para teroris yang senantiasa berbuat anarkis. Keberadaan tokoh agama dalam memberikan solusi atas bangsa ini merupakan prestasi sejati, agar perjalanan bangsa menuju keadilan dan kemakmuran serta kedamaian bisa segera terwujudkan.Lebih-lebih kondisi bangsa yang masih terjerat problem korupsi yang semakin tak terkendali, dan membuat negeri ini semakin terpuruk, dimana kemiskinan ditelantarkan, keadilan dijual belikan, dan pembiaran anarkisme sekaligus dijadikan untuk pengalihan perhatian.

Tokoh - tokoh agama di Surabaya setelah menyatakan kecaman atas tindakan anarkis, dilanjutkan dengan "Aksi Jalan Damai", para tokoh agama beserta beberapa umatnya pada hari sabtu, 1 Oktober 2011 pukul 16.00 WIB di awali dari Taman Bungkul dan menuju Grahadi Surabaya. Para tokoh agama tersebut diantaranya : KH. Saiful Halim (Ketua PCNU Surabaya), Drs. Andi Hariyadi (Wakil Sekretaris Muhammadiyah Surabaya), Pendeta Slamet, Pendeta Simon Filantropa (Kristen), Romo Eko Budi Susilo (Katolik), Romo Abaya (Majelis Budhayana Indonesia), Romo I Wayan Suraba (PHDI), Budi Wijaya (Kong Hucu), dan beberapa elemen masyarakat lainnya.

Peran Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH PENYELAMAT
POTENSI MASYARAKAT
Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Al Hajj (22) : 41
tûïÏ%©!$# bÎ) öNßg»¨Y©3¨B Îû ÇÚöF{$# (#qãB$s%r& no4qn=¢Á9$# (#âqs?#uäur no4qŸ2¨9$# (#rãtBr&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ (#öqygtRur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# 3 ¬!ur èpt6É)»tã ÍqãBW{$# ÇÍÊÈ
41.  (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
Amanah dan professional merupakan dua pilar yang kokoh dalam menggerakkan Muhammadiyah di tengah masyarakat yang semakin plural, meski demikian bukan menjadi penghalang untuk membatasi ruang gerak dakwanya, justru merupakan penyemangat untuk lebih memaksimalkan  misi dakwahnya, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya serta kepedulian kepada masyarakat sekitarnya. Kedekatan Muhammadiyah dengan masyarakat sudah tidak diragukan lagi, karena ini sebagai wujud implementasi dari kesalehan ritual ke kesalehan social, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk perbaikan sekaligus penyelamatan berbagai potensi yang ada di masyarakat guna membangun percepatan kesejahteraan dan pencerahan peradaban.
Masyarakat yang merupakan tempat kita berinteraksi baik secara social, budaya, ekonomi, dan sebagainya ini merupakan kenyataan yang harus kita jalani dengan penuh tanggung jawab, agar keheidupan dimasyarakat benar-benar terwujud kebahagiaan, kesejahteraan dan keamanan. Robert N Bellah, memberikan contoh kondisi masyarakat dalam kepemimpinan Rosulullah Muhammad SAW, sebagai masyarakat yang sarat dengan nilai dan moral, maju, beradab serta menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Kondisi ideal tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga yang diharapkan bisa terwujudkan di tengah-tengah kehidupan kita, lebih-lebih kita sering menyaksikan berbagai bentuk tindakan yang jauh dari nilai moral dan nilai kemanusiaan terus menghantui dalam kehidupan ini. Prof.Dr. Munir Mulkan lebih jauh menjelaskan, posisi manusia yang terdekat dengan posisi Tuhan akan dicapai jika manusia memihak pada kaum tertindas dan menderita secara ekonomi, social, politik dan budaya. Maka sebagai anggota masyarakat tentunya kita berupaya untuk senantiasa memberikan yang terbaik, serta tidak ingin menjadikan kondisi kehidupan ini semakin terpuruk.
Ayat di atas sesungguhnya dapat menyadarkan kita untuk senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT diantaranya dengan sholat dan menunaikan zakat serta menjaga hubungan yang baik dengan seluruh elemen masyarakat untuk berbuat yang ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar, bahkan Abu Hamid Al Ghazali menegaskan, Sesungguhnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan factor yang terpenting dalam agama, Bahkan misi kenabian untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Jika misi itu tidak dilaksanakan, maka kenabian batal dan agama akan hancur, Negara dan masyarakat menanti kehancurannya, kesesatan dan kebodohan merajalela. Begitu pentingnya peran amar ma’ruf nahi munkar ini dalam kehidupan kita sehingga upaya ini sebagai prioritas yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Maka Muhammadiyah yang telah berkomitmen dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar dalam setiap gerakannya merupakan pilihan yang tepat sekaligus  sebagai komitmen yang menjadi daya dorong disetiap gerakan dan pelayanan di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah.
Gerak dakwah Muhammadiyah di abad pertama telah terasa meski masih banyak yang harus disempurnakan, sehingga di Milad Muhammadiyah ke 101 pada 8 Dzulhijjah 1431 H yang berarti ketika memasuki abad kedua tersebut perlu penguatan ke dalam serta menatap masa depan dengan penuh harapan, sebagaimana terekam dalam kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Malang pada hari senin, 18 Oktober 2010 oleh pengamat Muhammadiyah dari Chiba University, Jepang,  Prof. Nakamura Mitsuo, mengatakan sebagai kekuatan civil society, Muhammadiyah bisa jadi jaring pengaman sosial (social safety net). Di saat negara sedang mengalami kesulitan dan krisis, maka organisasi sosial seperti Muhammadiyah dapat diandalkan sebagai penyelamat kekuatan masyarakat. Pernyataan ini sesungguhnya merupakan tugas berat yang harus dilakukan oleh seluruh komponen dan keluarga besar Muhammadiyah untuk secara cerdas bersikap secara bijak.
Penyelamatan potensi masyarakat hendaknya bisa dilakukan secara maksimal dan simultan  agar berbagai potensi yang ada tersebut mampu mensejahterakan masyarakat ketika masyarakat dirundung kedukaan, sekaligus mencerahkan masyarakat ketika masyarakat sering kali dibodohi oleh berbagai kebijakan yang jauh dari keadilan. Berbagai potensi masyarakat baik dari aspek kedisiplinan, etos kerja, kejujuran, kesadaran, keramahan dan kemanusiaan harus segera diselamatkan agar tidak terbawa oleh arus gelombang yang menghancurkan sendi-sendi social. Muhammadiyah di abad keduanya seharusnya lebih berani mengevaluasi diri tentang sejauhmana peran penyelamatan potensi masyarakat yang telah dilakukan, karena hal ini sangat penting guna membendung bencana kerusakan masyarakat yang semakin tidak terkendali, dimana kemiskinan semakin ditelantarkan, keadilan semakin diperjual belikan, konflik social semakin dijadikan ajang mencari popularitas dan lain sebagainya. Upaya penyelamatan ini harus diiringi oleh kualitas diri dari para pemimpin dan anggota serta keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah agar tidak disibukkan oleh hal-hal yang tidak produktif dan cenderung konfrontatif, tetapi benar-benar sadar untuk perbaikan kehidupan masyarakat yang lebih luas karena disana telah terbantang berbagai tantangan untuk menuju peradaban yang bermutu. Semoga kita menjadi yang pertama meraih kemuliaan diri dengan lebih peduli.

Muhammadiyah dan Proses Pencerahan

MUHAMMADIYAH
GESEKAN INDAH BIOLA
Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I
Al Baqarah : 147
,ysø9$# `ÏB y7Îi/¢ ( Ÿxsù ¨ûsðqä3s? z`ÏB tûïÎŽtIôJßJø9$# ÇÊÍÐÈ
147.  Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Dinamika dakwah Islam dalam persyarikatan Muhammadiyah beserta seluruh organisasi otonomnya sesungguhnya merupakan implermerntasi dari kekuatan aqidah tauhid yang tertanam kuat untuk mendeklarasikan prinsip kebenaran dari AllahSWT. Kebenaran ini sebagai upaya menjadikan kehidupan manusia lebih bermakna dan berdaya guna untuk secara aktif dan produktif dalam beramal soleh, karena ternyata masih sering kita jumpai berbagai model dinamika kehidupan yang justru mengantarkan pada kehinaan, terbelenggu kesesatan, terobsesi dengan dendam dan permusuhan serta penindasan.
Kebenaran yang seharusnya ditegakkan untuk kemaslahatan, telah terkubur oleh nafsu keserakahan, kebenaran dianggap kuno dan  usang sedang  kemaksiatan dijadikan trend kehidupan. Situasi seperti ini sering menimbulkan gesekan dan konflik untuk berbagai kepentingan, sehingga suasana kehidupan tidak kondusif, mencekam dan menakutkan, keharmonisan telah sirna, yang ada hanyalah permusuhan dan kecurigaan, rasa saling menghormati dan menghargai telah mati, yang ada hanyalah kebencian sejati. Kehidupan seperti ini tidak lagi mendasarkan pada kebenaran tetapi pada kebodohan akibat sempitnya wawasan dan kerdilnya kecerdasan, serta tertutupnya kejernihan nurahi. Ketidakmampuan  menjadikan kebenaran sebagai pilihan sekaligus penuntun kehidupan, sehingga berdampak pada maraknya berbagai aksi aksi keburukan, kebrutalan, kekejaman dan kerendahan sebagaimana firman-Nya :
Az-Zumar : 51
öNåku5$|¹r'sù ßN$t«Íhy $tB (#qç7|¡x. 4 tûïÏ%©!$#ur (#qßJn=sß ô`ÏB ÏäIwàs¯»yd öNåkâ:ŠÅÁãy ßN$t«Íhy $tB (#qç7|¡x. $tBur Nèd tûïÌÉf÷èßJÎ/ ÇÎÊÈ
51.  Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.

Apapun fenomena kehidupan yang ada disekitar kita, hendaknya kita bisa berperan secara maksimal dalam memberikan solusi perbaikan dan keunggulan kehidupan sebagai wujud amal soleh serta peran amar ma’ruf nahi munkar. Melalui ruang inilah dakwah Muhammadiyah semakin terbuka lebar, lebih-lebih ketika menghadapi problematika kehidupan yang semakin sarat dengan segala sifat kerendahan (kebohongan, kerendahan moral, dan sejenisnya), sehingga terpanggil untuk menata meski sarat dengan berbagai bentuk perlawanan tidak mengurangi sedikitpun langkah perjuangannya dalam menegakkan kebenaran.
Metode dakwah Muhammadiyah sebagaimana tertayang dalam film Sang Pencerah, dimana KH.Achmad Dahlan begitu piawai mengesekkan biola sehingga menghasilkan suasana keindahan ajaran Islam berupa : keotentikan, kejernihan, menyadarkan, menggerakkan, memberdayakan serta ikhlas berjuang. Keindahan lantunan gesekan biola ini  tidak bisa dilepaskan dari kualitas pribadi yang memainkan, sehingga dari karya indah inilah bermunculan kader-kader persyarikatan yang tangguh untuk bisa memainkan simponi keindahan dalam dakwah Islam dan mampu melahirkan karya-karya monumental berupa amal usahanya.
Dinamika perjalanan dakwah dalam memainkan dan menghasilkan karya indah dari gesekan biola ini bukan berarti tanpa masalah, justru gesekan itu bisa memanas karena terbawanya berbagai kepentingan yang beragam, namun semua kader persyarikatan sangat paham bahwa di Muhammadiyah adalah lahan dakwah untuk beramal soleh, sehingga sepanas apapun akibat gesekan yang ada tidak memutuskan tali persaudaraan justru semakin menyadarkan bahwa permasalahan yang ada itu merupakan tahapan menuju kesempurnaan amal soleh, sehingga dalam memberikan solusi akan dilakukan secara bijak dan cerdas. Kesadaran seperti inilah yang harus terus dibangun, sehingga ketika ada problematika semakin menambah daya dukung untuk berkomitmen terhadap kebijakan persyarikatan Muhammadiyah yang selalu memperjuangkan kebenaran.
Berakhirnya acara Musyawarah Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Surabaya, bertema : “  Penguatan Gerakan Dakwah dan Tajdid Untuk Pencerahan Peradaban” yang digelar sejak awal Januari 2011 hingga 30 Januari 2011 dengan berbagai acara penyerta yang mampu menjadi daya dorong untuk tetap bersinergi dengan berbagai potensi persyarikatan yang ada sehingga terpilihlah Pimpinan pada periode 2010 – 2015 dengan berbagai program yang mencerahkan, memberdayakan serta berkeadilan. Dari kepemimpinan inilah diharapkan mampu memainkan gesekan dawai biola yang indah yang tertantang dengan problematika kehidupan. Lantunan indahnya gesekan biola dakwah Muhammadiyah dalam menterjemahkan berbagai program yang ada sangatlah dinantikan untuk upaya percepatan perbaikan kehidupan, sehingga kebenaran terus ditegakkan tanpa ada keraguan sedikitpun. Sang Pencerah dalam barisan kepemimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Surabaya memiliki tanggung jawab yang besar untuk bersinergi dan koordinasi serta mengimplementasikan kebijakannya. Indahnya gesekan biola akan terasa indah manakala dijalankan dengan penuh amanah hingga menghasilkan karya amal soleh yang nyata.