Sabtu, 07 Juli 2012

BUDAYA KELULUSAN




Pada hari Senin, 28 Mei 2012 setelah diumumkannya kelulusan siswa SMA  SMK, seperti biasanya adanya kebiasaan yang sudah membudaya disebagian kalangan anak-anak pelajar kita ketika merayakan kelulusannya dengan mencorat-coret seragam sekolahnya dengan aneka warna cat hingga mengenai sebagian anggota tubuhnya, yang saling bergantian dengan lainnya, dan itu sepertinya dibanggakan, dilanjutkan melakukan konvoi kendaraan bermotornya berkeliling kota berboncengan tanpa pengaman helm terus beraksi hingga mengganggu pengguna jalan lainnya, bahkan para pengguna jalan itu harus mengalah untuk memberikan kesempatan para pelajar melampiaskan aksinya di jalan raya.

Setelah pengumuman kelulusan SMA-SMK, minggu depannya pengumuman kelulusan pelajar SMP, juga memiliki kesamaan karakteristik para seniornya (SMA-SMK) untuk merayakan kelulusannya dengan budaya yang kurang mencerminkan sebagai pelajar yang berkarakter, disiplin, sopan dan unggul. Sepertinya, selama mereka bersekolah bagaikan terpenjara beberapa tahun, sehingga setelah dinyatakan kelulusannya mereka melampiaskan rasa kegembiraannya untuk  keluar dari dinding – dinding sekolah yang telah memenjarakannya, untuk melepaskan berbagai aturan kedisplinan yang dianggap memberatkannya. Dan diantara pelampiasannya mencoret-coret symbol – symbol pendidikan yang selama sekian tahun menjadi atributnya.

Pihak sekolah sudah berupaya mengingatkan kepada para siswanya untuk merayakan kelulusan dengan rasa syukur bukannya melakukan tindakan yang cenderung jauh dari nilai syukur, namun upaya itu kurang diperhatikan sehingga atraksi corat-coret seragam dan konvoi dijalan masih saja dilakukan.

Kelulusan bukanlah akhir dari upaya pendidikan, justru kelulusan adalah awal untuk memasuki kompetisi baru, yang di dalamnya sarat dengan keunggulan, kedisiplinan, prestasi dan sebagainya yang telah dibangun selama mengikuti pendidikan di sekolah. Sehingga budaya kelulusan sejatinya untuk mempersiapkan diri lebih berprestasi di tengah kompetisi kehidupan yang semakin komplek, dan bukannya dengan aksi yang tidak mendukung prestasi. Budaya kelulusan diarahkan untuk menjembatani memasuki realitas kehidupan yang terus memacu percepatan yang berkemajuan agar tidak tertinggal dan selalu menjadi obyek yang tidak diperhitungkan.  Budaya kelulusan seharusnya mampu membuat jejaring kehidupan yang lebih luas ketika kehidupan dunia yang semakin mengglobal. Pancasila dan UUD ’45, sejatinya mampu  melahirkan budaya bangsa, sehingga pendidikan harus mampu menjadi benteng ketika dihadapkan pada dekadensi budaya dan demoralisasi kehidupan. Maka pendidikan seharusnya mampu menjadi media pembentukan karakter siswa yang unggul, yang mampu bekerja keras dan bertindak cerdas, serta secara sadar terbangun motivasi menjadi pribadi yang memiliki rasa bertanggung jawab baik untuk diri sendiri maupun bagi masyarakat dan bangsanya.

Dalam al Qur’an Allah SWT berfirman dalam surat An Nahl (16) : 60



60. orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Akhir disampaikan selamat meraih kelulusan untuk menyambut masa depan yang penuh tantangan dengan kesuksesan.

Oleh : Drs. Andi Hariyadi, M.Pd.I

Selasa, 24 April 2012

PEDULI KEASRIAN DAN KELSTARIAN

Oleh : Drs.  Andi Hariyadi, M.Pd.I
Al A’raaf : 56
Ÿwur (#rßÅ¡øÿè? Îû ÇÚöF{$# y÷èt/ $ygÅs»n=ô¹Î) çnqãã÷Š$#ur $]ùöqyz $·èyJsÛur 4 ¨bÎ) |MuH÷qu «!$# Ò=ƒÌs% šÆÏiB tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÎÏÈ  
56. dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Pada tanggal 22 April, senantiasa diperingati sebagai hari bumi sedunia, dan ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya, sehingga aktivitas kesehariannya dilalui begitu saja, padahal momentum ini sangat tepat untuk mengevaluasi segenap aktivitas kita di bumi ini, yang menjadi rumah bersama kita bersama seluruh makhluk yang ada, sekaligus tempat kita hidup dan mencari kehidupan, sehingga sepatutnyalah  kita selalu menjaga agar bumi yang kita cintai ini tetap terjaga keasriannya, dan setiap upaya pengrusakan lingkungan alam sangat ditentang-Nya.
Kepedulian akan lingkungan di bumi ini dicetuskan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson dari Wisconsin, pada 22 April 1970, sehingga sering diperingati sebagai Earth Day (Hari Bumi), bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan kita, agar segera menghentikan  pengrusakan yang berorientasi demi mendapatkan financial yang menggiurkan,
Isu penyelamatan lingkungan pada awalnya kurang mendapat respon, namun dalam perkembangan selanjutnya adanya kesadaran baru untuk peduli dengan linkungan, bahkan anak-anak sekolah dengan bimbingan para gurunya, serta keteladanan orangtuanya untuk dibangun kesadarannya agar sejak dini upaya penyelamatan lingkungan dapat dilakukan, dan setiap pengrusakan dapat berakibat yang sangat membahayakan kehidupan.
Saatnyalah kita untuk selalu bersyukur, dimana usia bumi yang diperkirakan mencapai 4,6 milyar tahun, dan admosfer bumi selalu diselimuti oleh lapisan Ozon hingga 50 Km di atas lapisan stratosfer dan mesosfer yang berfungsi melindungi bumi dari pancaran sinar ultraviolet dari Matahari yang jaraknya ke Bumi mencapai 149,6 juta Km. Dan Suhu di bumi -70o C hingga 55oC, sehingga masih dimungkinkan makhluk hidup tinggal di bumi, coba bandingkan jika suhu di Bumi sama dengan suhu di planet Venus yang dipermukaannya mencapai 482oC, lalu  apa jadinya kita semua ini ?. Dan dari Bumi ini kita bisa mendapatkan berbagai kebutuhan hidup kita, mulai dari yang bersifat komsutif hingga asesoris sudah tersedia di Bumi, sehingga pantaskah jika kita merusaknya ?, maka kita sebagai orang beriman diingatkan  oleh Allah SWT dalam firman-Nya pada Surat At Tholaq 12 :
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y ;Nºuq»oÿxœ z`ÏBur ÇÚöF{$# £`ßgn=÷WÏB ãA¨t\tGtƒ âöDF{$# £`åks]÷t/ (#þqçHs>÷ètFÏ9 ¨br& ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ¨br&ur ©!$# ôs% xÞ%tnr& Èe@ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã ÇÊËÈ  
12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.
Peran orang beriman dalam menjaga lingkungan sangat diharapkan, karena apa yang dilakukan adalah untuk kebaikan, sebagai wujud rasa syukur dan ketaatan, sehingga tidak ingin untuk merusak apa-apa yang telah Allah SWT karuniakan pada kita. Hanya orang-orang yang tidak punya iman dan ilmu saja yang senantiasa melakukan pengrusakan lingkungan, karena orientasi hidupnya hanya untuk kepuasan meski dengan cara-cara pengrusakan asal mendapatkan keuntungan yang besar dan tidak peduli adanya kerusakan lingkungan.
Ajaran agama Islam senantiasa mengajarkan untuk hidup selaras dengan alam, dan ada dua prinsip ajaran yang harus selalu kita perhatikan, yaitu 1) ajaran Rabbul’alamain, bahwa Allah SWT adalah Rab (Penguasa, Pemelihara, Pencipta, Pengatur) bagi seluruh alam, bukan hanya untuk sebagian-sebagaian alam yang ada, sehingga ini menyadarkan kepada kita betapa pentingnya menjaga keselarasan lingkungan, dan 2) ajaran Rahmatan lil’alamin, bahwa manusia diberi amanat untuk senantiasa berlaku kasih saying bagi semesta alam, bukan hanya kepada manusia   saja tetapi seluruh penghuni ala mini diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Jadi ajaran Islam sesungguhnya sejak awal sudah komitmen untuk melakukan kebaikan bagi seluruh alam, sehingga ketika ada upaya sebagian masyarakat melakukan pengrusakan lingkungan alam, baik yang berupa penggundulan hutan, pencemaran lingkungan dan lain sebagainya,  sejatinya telah melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.
Kerusakan lingkungan alam bisa dikarenakan oleh peristiwa alam itu sendiri, seperti gunung meletus, gempa bumi, angin topan, dan juga dikarenakan oleh ulah tangan manusia, seperti pencemaran, penebangan hutan, longsor, banjir, perburuan binatang, eksploitasi tambang dan lainnya,dan ternyata pengrusakan oleh tangan manusia lebih tersistematis, artinya dilakukan secara terus menerus dan secara besar-besaran hingga sempurna kerusakannya, serta punahnya flora dan fauna, lingkungan alam menjadi rawan bencana, serta tidak peduli lagi akan nasib generasi kita mendatang, dan apakah generasi kita akan mewarisi limbah dan bencana ?. Maka upaya pelestarian dan pembangunan yang berkelanjutan harus terus dikawal  sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengimplementasikan ajaran Rabbul’alamin dan Rahmatan lil’alamin. Peduli untuk selalu menjaga keasrian dan kelestariannya, merupakan bagian dari amal soleh, semoga kita selalu maksimal dalam beramal, sehingga anak – anak kita tidak mencela orangtuanya karena telah berbuat serakah, justru selalu hormat karena berbuat yang bermartabat.